Postingan

Kedewasaan

Sebuah masa dimana sedang matang-matangnya. Saat dimana masa depan dirancang, dipersiapkan dengan orang tersayang. Yang kata sebagian orang paling pas membina keluarga baru.   Kadang kita gak sadar kita bukan anak kecil lagi. Bukan remaja yang masih berusia 15-17 tahun. Bukan bocah yang ngambek karena hal sepele. Tapi justru diumur-umur yang kritis tersebut nyatanya kita kadang masih berperilaku seperti bocah. Follow dan unfoll bisa menjadi masalah serius dan rumit. Padahal terus terang bisa saja hal ini karena masalah sepele. Kedewasaan ternyata tidak semudah bayangan. Meski sudah melewati usia 20 saja rasanya belum juga mengerti kedewasaan itu. Menyimpan rapat masalah dan kesedihan tak semudah menyimpan kebahagiaan. Butuh usaha ekstra yang sangat luar biasa untuk tidak dengan mudah berbagi hal. Padahal kita ingin. Karena ada banyak hati yang harus dijaga. Banyak perasaan yang harus dimengerti.   Hal inilah yang pada akhirnya membuat kita lebih baik menyimpan kesal, m...

Refleks Yang Menyebalkan

Gambar
Semalem, sejujurnya agak kesindir. Oke ralat, lebih tepatnya ketampar keras sama twetnya ko Lexy. Aku akui dan sadar banget kalo kadang suka refleks nepuk pundak, nyenggol siku, bahkan kadang kalo saking gemeznya aku bisa meluk-meluk orang yang aku ajak ngobrol :(. Atau suka ekstrem menguncang-nguncangkan pundak orang. :"( .Tenang..... Tenang... Yang aku peluk masih cewek kok. Kalo ga deket-deket banget aku juga risih mau nepuk-nepuk pundak cowok yang ku ajak ngobrol. Tapi kan gimana yaaaa. Namanya juga reflexs. Mungkin tangan ku harus dirafia yaa kalo lagi ngobrol ma orang. Biar gak ngasal tepok sana-sini. :( srcreen shot twetnya ko Lexy Maaf yaaa buat yang sering jadi korban. Murni refleks. Gak ada maksud buat nyakitin. Aku janji mulai hari ini, gak akan nepuk-nepuk lagi, menguncang-nguncangkan lagi, meluk-meluk gemez lagi, atau ngegelitikin di perut pake tangan. Janji-janji! Suer! Ingetin yaa kalo aku salah :( Harus ada mantra di kepala. Kontrol geee. Kontr...

Lebih mirip Upik Abu Daripada Raline Shah

Sejujurnya sampai detik ini, hingga tulisan ini saya post di blog, saya masih gak paham. Gak paham karena ada sebegitu banyakknya orang yang ngelike foto saya dengan seseorang. Yaaa mari katakan dia Atlet profesional. Tapi bagi yang tidak benar-benar tau tentang atlet apakah dia, tentu ada pemikiran "ini siapa sih? Gak kenal." Lantas sebenarnya apa sih membuat orang me-like foto saya itu? Sungguh saya heran dan sangat ingin tau! Karena dalam sejarah perInstagraman saya, bahkan belum pernah ada yang me-like hingga 30. Mentok cuma 21. Itu pun saat wisuda. Lainnya hanya sebatas 10-15 like. Dan kalo kalian ingin tau, foto ini sudah mencapai 229 like's. Luwar biasyak bukan?? Yaaa buat saya yang cantik juga enggak, terkenal apalagi, follower juga seberapa. Eh di-likenya gila-gilan ampe melebihi 100 itu sungguh suatu pencapainnya yang tetep aja bikin wow. Sebagus apa siih fotonya? Liat sendiri aja yak! Menurutku pribadi sih, fotonya biasa aja. Gak spesial sama sekali, k...

Pengalaman Pertama Menjadi Jurnalis Olahraga

Setiap liga basket bergulir di Yogyakarta, biasanya saya selalu bersemangat dan menantikan menonton pertandingan sebagai penonton yang lebih sering dikatakan fans (penggemar). Namun untuk tahun ini sedikit pengecualian. Untuk pertama kalinya saya menonton basket bukan dari kacamata seorang fans tapi dari sudut padang penulis atau orang biasa mengatakan jurnalis. Meski sama-sama menonton basket, namun kali ini prespektif yang saya gunakan bukan lagi seorang fans yang hanya datang dan menonton. Tapi lebih melihat sisi lain pertandingan itu sendiri. Melihat bagaimana antusiasme masyarakat yang datang, melihat mengapa tim-tim papan bawah seperti tidak punya nyali ketika melawan tim papan atas. Padahal kalo dilihat dari segi skill seharusnya tidak ada yang jauh beda. Dari segi kecepatan juga sama. Mungkin hanya efektivitas saat eksekusi yang masih mentah sehingga minim score. Atau mungkin strategi pelatih tim papan atas memang sanggup dikerjakan dengan baik oleh para pemainnya. Den...

You Are Special

Nulis! Hahahaaa sejak sibuk mulai kuliah lagi, jadi mulai melupakan kegitan menulis. Yeaaa aku datang lagi.... Mungkin pada males kali yaa kalo gw hanya cerita masalah gw melulu, cerita kisah gw, dan apa yang gw alami. Tapi yaaa setidaknya kalian bisa mengambil pelajaran dari apa yang gw ceritakan. Kalo gak ada pelajaran dan anggap cerita gw “sampah” yaa silakan. Itu hak kalian. But, it’s my blog and it’s my story :) --------------- Sore ini untuk kesekian kalinya saya denger cerita tentang seseorang yang istilahnya “kurang mendapat pujian/apresiasi”. Dia kemudian jadi minder, sulit bergaul, introvert, takut, dan sebagainya. Hal ini diperparah oleh saudaranya yang mempunyai sifat berkebalikan. Percaya diri, vokal, dan kritis. Makin minderlah orang ini tadi (sebut aja namanya Sekar). Jadi makin merasa rendah diri, inferior karena saudaranya lebih bersinar. --------------- Mendengar cerita ini, serasa kaya bercermin. Saya pernah ngerasaain apa yang dia rasain (dari cerita ...

Komunikasi vs Desain Grafis

Entah untuk yang keberapa, kesekian kalinya, banyak yang bingung, heran, dan bertanya-tanya. Mengapa lulusan dari Universitas yang katanya terbaik di Indonesia, masih memilih kuliah yang ga nyambung sama Komunikasi? "Sebelumnya kuliah di mana?" "Fisipol" "Lha kenapa tertarik desain?" dengan dahi berkerut "Gapapa pengen aja" heheheeee nyengir. Menurut mereka title universitas yang mentereng jaminan 'mudah' dapat kerja. Ahhh kata siapa??? "Kan dri ugm to? Kok ga langsung nyari kerja?" "Iya pengen nambah skill" "Oooooooh" Yaaaa that's point! Skill. Saya tau diri saya tak punya modal apa-apa yang bisa saya tawarkan. Apa yang bisa saya banggakan dari CV mahasiswa yang kerjanya kupu-kupu, kuliah pulang - kuliah pulang????? 2 kali saya DITOLAK salah satu press mahasiswa. Nah gimana?? Di mana tempat saya mengembangkan diri?? Katanya harus berorganisasi, lhaaa ditolak e. 2 kali. Yaaa mungkin ga bakat jadi...

Jodoh

Suatu ketika, ada seorang teman yang bercerita jika dia sangat mengidolakan Mario Teguh. Bahkan kata-katanya selalu menginspirasi. Well, buat saya, saya sama sekali gak mempan sama motivasinya beliau ( sorry to say ). Teman saya cerita kalo dia sangat tertarik dengan salah satu quote “bahwa cinta harus dicari, diperjuangkan?” oke. Gini. Sekarang kalo saya balik nanya, “kemana cinta harus saya cari?” ke Depok? Ke Bekasi? Ke Jakarta??? KEMANA????? KEMANAAAAAA? (napa malah jadi nyanyi lagu Ayu Ting Ting yaa?). Buat saya pribadi yang udah baca beberapa buku tentang jodoh, bahwa sebenarnya jodoh itu tak perlu dicari. Oh apa lantas kita hanya diam saja dirumah gak ngapa-ngapain? Ongkang-ongkang kaki berharap si Cinta datang? GAK GITU JUGA. Gak usah nyari? Gini, menurut saya, mencari cinta yang hakiki itu ya ke Tuhan. Udah. Titik. Simpel. Mudah, murah banget. Semakin kita mencari Cinta-Nya, InsyaAllah, jodoh akan datang atas petunjuknya. Ngerti kan sampai sini. Kalo kita sendiri bel...

Cermat ke Hypermart

Setiap orang di setiap kehidupan ini, pasti pernah ngalami hari buruk. Hari apesnya kalo buat orang Jawa. Ada yang mungkin ban bocor di jalan, ada yang kehabisan bensin, motor tiba-tiba mogok, ketilang polisi gara-gara gak bawa SIM/STNK dan sebagainya. Nah hari ini bisa dibilang hari apes. Hari kecewa atau gelo. Mood yang tadinya hepy mendadak jadi drop! Seakan bahagia itu dimakan dementor. Siang tadi sepulang dari kondangan dari UIN, mampirlah ke salah satu supermarket sebut aja hyper. Agak lama juga disitu, liat macem-macem barang. Dan tertarik sama gulungan Shusi! Mendadak impulsif dan pengen beli. Yaaa udahlah yaaaa. Sampe kasir bayar sekian, dan agak heran kenapa bisa abis sekian banyak, padahal yang dibeli dikit. Gak ambil pusing dan rada males ngecek lagi, pindahlah ke outlet sebelah, ke lantai sekian, sekian. Sampe rumah rasa penasaran dan heran itu terjawab! Gulungan Shusi tadi dihitung 2 x harga satuan. Edyaaaaan. Harga satuan aja 34.900, kalian x 2 deh, udah berapa. Sedii...

Mengembalikan Televisi Publik

Seri Penyiaran Publik Pada tahun 1962 sejarah pertelevisian di Indonesia dimulai ketika TVRI mengudara untuk pertama kalinya dengan siaran langsung HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-17 di Istana Negara Jakarta dan liputan Asian Games IV di Jakarta. TVRI awalnya adalah medium untuk mempromosikan program-program pemerintah, serta memperteguh konsensus nasional tentang budaya nasional, pentingnya pembangunan, tertib hukum, dan menjaga kemurnian identitas bangsa. Pada awal berdirinya secara resmi pada 24 Agustus 1962, TVRI dikenal sebagai televisi pemerintah. Sebab TVRI memang tidak diorientasikan untuk memenuhi kepentingan-kepentingan publik. Dari sekadar medium untuk mendokumentasikan sejarah,TVRI pada akhirnya hanya berperan sebagai alat propaganda pemerintah dan perangkat Ideologis rezim berkuasa. Hal  inilah yang menjadi kendala serius ketika muncul keinginan untuk mentransformasikan TVRI menjadi Lembaga Penyiaran Publik. Pembentukan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) dan...

Bukan Perkara Mudah

Sebelum memutuskan menikah kiranya hal ini menjadi penting untuk dipikirkan. Cek this out. 1.     Yakinkanlah bahwa memang dia yang akan menjadi teman hidupmu sampai kamu tua nanti. Jangan karena alasan ganteng, tinggi, pintar kamu memilih dia. Suatu saat dia yang kamu cintai tidak lagi secakep saat kamu menikah dulu. Karena usia, suatu saat dia sudah mulai lupa dan pikun/parkinson/alzaimer tidak lagi sepintar dulu. 2.     Kamu pun harus siap menghabiskan sisa usia bersama dia. Sebelum tidur dan bangun tidur yang kamu liat hanya dia. 3.     Seseorang yang membantu memotong kukumu, dan membantumu menyibak ubanmu yang mengganggu , dia yang mencebokimu kala kamu tak sanggup bangun dari tempat tidur, dia yang mengelus perutmu dan meredakan rasa keram yang datang setiap bulan. Dia yang menjadi imam dalam setiap doa yang kalian harap besama. 4.     Meyakinkan diri bahwa kamu memang pantas menjadi ibu/ayah dari anak-...