Postingan

Masihkah TVRI dan RRI Eksis?

Pada tahun 1962 sejarah pertelevisian di Indonesia dimulai ketika TVRI mengudara untuk pertama kalinya dengan siaran langsung HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-17 di Istana Negara Jakarta dan liputan Asian Games IV di Jakarta. TVRI awalnya adalah medium untuk mempromosikan program-program pemerintah dan diperlakukan sebagai alat propaganda pemerintah. Fakta sejarah inilah yang menjadi kendala serius ketika muncul keinginan untuk mentransformasikan TVRI menjadi Lembaga Penyiaran Publik. Sebab sejak dari awal TVRI memang tidak diorientasikan sebagai media untuk memenuhi kepentingan-kepentingan publik. (Kitley, 2001 dalam Sudibyo, 2004 : 280). RRI yang lahir pada tahun 1945 menjadi sejarah sebagai pengawal kemerdekaan dan menyiarkan berita kemerdekaan ke seluruh pelosok Indonesia. Sejak saat itu RRI menjdi primadona masyarakat sebelum menjamurnya radio-radio swasta. Saat ini hampir sebagian besar masyarakat sudah jarang sekali menonton TVRI apalagi mendengarkan RRI. Lebih-lebi...

Defensif vs Open Minded

Beberapa hari yang lalu aku review salah satu novel. Jujur aja, baru kali ini ngereview novel. Sebelumnya pernah review sih tapi untuk tugas kuliah doang. Jadi isenglah Aku review novel yang baru aja selesai dibaca. Jujur aja aku kurang sreg. (Liat posting sebelumnya). Aku tulis jujur, apa adanya yang emang aku rasain dan sesuai ma pikiranku saat itu. Abis selesai posting di blog, aku linklah ke twitter dan mention penulisnya biar baca. Tapi ternyata.... Dari tanggapan dia sama reviewku, dia kecewa (gak terima). Defensif dan tetep beranggapan bahwa apa yg dia tulis pasti disukai. Tapi kok aku (kurang) suka ya? Apa itu salah? Apa aku harus pura-pura "wah novelmu keren banget, moodku campur aduk selesai baca, bikin yang tadinya nangis trus ketawa, bisa banget bikin dongeng ajaib gitu". Enggak kan? Tapi kayaknya justru itu malah yang pengen dia denger dari pembaca. Bikin dia seneng dan bahagia novelnya diterima. Postingku yang kemarin udah dianggap lewat... Gak pe...

Some Where Only We Know

Tadi pagi baru aja menamatkan salah satu Novel yang diperoleh dari perjuangan Pre Order -udah semacam Pre Order tiket konser-. Novel ke dua, ralat : novel fiksi pertama @aMrazing.. Sejujurnya gue lebih suka novel non-fiksi TNSLOA. Hehehee. Okeee fokus.... Fokus.... Sebenernya ekspektasi gue ke novel ini terlalu tinggi. Gue pengen bagian Hava ketemu Kenzo bisa lebih dramatis lagi. Minimal pada akhirnya Kenzo atau Hava meminta maaf. Kenzo karena dia udah sempat ga percaya. Hava karena dia udah membiarkan Kenzo nunggu terlalu lama. Mungkin ini terlalu sentimentil karena gue cewek. Hahahaaa Gue pikir kata - kata "Kampret" gak banyak muncul. Ternyata gue salah. Jujur aja kata-kata malah menurut gue ganggu. Makian dan omelan Ririn juga kadang terlalu lebay. (Tapi mungkin emang sengaja dibuat lebay). Pas bagian Arik cerita tentang dongeng, sengaja aku lewatin. Karena emang gak terlalu suka dongeng yang absurd apalagi dongeng ala putri-pangeran. Klise. Hubungan Ririn ma Arik t...

Untittle

Beberapa hari yang lalu entah semesta sedang berencana apa, gue ketemu lagi sama orang yang sebenernya males banget gue temui. Bahkan untuk denger suaranyapun gue ogah. Dan setelah lebih dari 4-5 tahun gak ketemu, kemarin gue harus merelakan jantung gue nyaris copot plus migren berkempanjangan sebagai akibat ulah dia –yang tak udah disebut nama- yang nyetir gak karuan kayak sopir truk ngejar setoran. Untuk pertama kalinya gue mual dan migren padahal cuma wisata dalam kota. Aseli itu migren ganggu banget. Ganggu liburan gue tepatnya. Dia pun gak minta maaf udah bikin kepala bentur kursi depan berkali-kali pun saat gue nyaris ketinggal kereta gagara dia salah ambil jalan. Dan gue nyaris berlinangan air mata tepat saat kereta sudah memasuki stasiun. Gue kecewa! Entah kenapa, liburan kemarin jadi liburan ter-males dan ter”akward” yang pernah ada. Gue bahkan terlalu malas untuk sekedar menatap matanya. Bahkan untuk sekedar menyapa dan membuka obrolan. Udah terlalu lama dia gak pernah h...

Menikah?

Akhir-akhir ini, di halaman FB beberapa kawan sudah berkeluarga bahkan sudah memiliki anak. Lalu terbersit dalam hati, kapan aku sampai pada masa itu? Bagi yang telah memiliki pacar, tentu pertanyaan seperti “kapan nyusul”, “kapan dapat undangan” sudah sering kali didengar. Padahal bisa saja sebenarnya merekapun belum siap menikah. Belom lagi bagi yang jomblo. Pertanyaan “kok sendiri”, “pasangannya mana”, udah semacam makanan empuk saat kumpul keluarga besar. Apalagi saat sodara-sodara sepupu masing-masing telah menikah dan punya pacar, kaum yang jomblo ini makin khusyuk berdoa memantaskan diri. Yang orang lain gak tau adalah, banyak bekal yang harus dipelajari sebelum nanti akhirnya berkeluarga. Karena menikah bukan cuma ijab qobul lalu selesai. Kesiapan mental sangat dibutuhkan. Memperbanyak pengalaman. Mana yang harus dilakukan mana yang tidak.  Tapi yaa namanya juga orang punya mulut, mereka kadang suka asal ngomong. Bagi kawan yang diumur seperti saya ini sudah be...

Di mana...

Gak lama lagi pertanyaan ini akan muncul. Setelah berjibaku selama kurang lebih 4,5 tahun dengan kerasnya jadi mahasiwa, yang berakhir dengan pertanyaan kapan. Kali ini akan berganti dengan di mana? Di mana? Saya pun gak tau, dan saya pun sampai tulisan ini dibuat belum punya jawaban. Kenapa? Karena saya tidak kemana-mana. Jika yang lain, setelah menyandang sarjana lalu pergi ke hutan rimba “Jakarta”. Saya masih di sini. Sejujurnya setelah prosesi itu. saya gak tau masa depan saya mau dibawa kemana. Mau ngapain. Hingga disatu titik saya berpikir. Apa sih guna saya di dunia ini? apa sih tugas saya? Dan ribuan pertanyaan lain yang tak terjawab. “gak nyari pekerjaan?” entah udah berapa kali jawaban ini muncul jika bertemu dengan teman, atau sesama alumni. Saya jawab “enggak”. Kenapa? Karena saya mungkin gak siap. Pekerjaan apa sih yang saya mau? Perkerjaan apa sih yang cocok sama saya yang begini? Dan lagi apa saya siap harus gagal lagi, lagi dan lagi dalam mencari pekerjaan ...

Jatuh Cinta Diam-diam

Jatuh cinta? Kapan terakhir kali aku jatuh cinta? Pada sosoknya? Pada dia yang kusebut dalam doa? Atau mungkin kadang aku terlupa menyebut nama? Begitu lama kau simpan rasa itu Rasa yang hanya kau saja yang tau Masih tersimpan disana munggu rasa itu terpanggil oleh yang punya nama Apakah ia masih ada jika yang terpanggil nama yang lain? Ataukan ia akan menjadi rahasia sampai jiwa ini kembali? Mereka yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa menuliskan namamu dalam setiap lembar buku catatan. Menuliskan cerita berlembar-lebar dalam halaman buku diary Merasakan getaran saat pertama kali sms mu mendapat balasan Tersenyum girang saat mata kalian tak senggaja bertatapan Mungkinkah kamu juga memiliki rasa yang sama? Atau kamu juga ingin diam-diam sama sepertiku? Jatuh cinta diam-diam Dalam keheningan, ku tatap punggung itu semakin menjauh tanpa bisa ku raih Punggung yang selalu aku rindukan kala sedih ini butuh sandaran Saat malam, ku bisikkan namamu ...

Alhamdulillah Wisyudah

Alhamdulillah, akhirnya lulus, resmi di wisuda juga. :”). Apa yaaa, gak bisa digambarkan. Campur aduk. Beban ibu akhirnya berkurang satu heheee. Beberapa bulan lalu, mungkin gak terbayang bagaimana bisa berdiri diantara ribuan orang di GSP. Gak terbayang kalo saya kuat menghadapai badai. Ternyata saya sanggup bertahan. Meski jujur kata menyerah sering kali saya keluhkan. Kata menyerah selalu hadir kala raga ini, batin ini, rasanya tak sanggup bertahan lebih lama. Perjalanan yang panjang itu akhirnya terbayar lunas hanya dalam sehari. Perjalanan penuh tangis, penuh amarah, penuh drama pada akhirnya terbayarkan oleh kesabaran, kuatnya bertahan, pelukan orang tersayang, dukungan handai taulan. Perjalanan yang panjang dan melelahkan pada akhirnya sampai juga pada tujuan yang sesungguhnya, “Finish Line”. Tapi apa guna hanya hadir saat Finish Line namun tak menemani kala sedang berjuang. Tak menemani selama di perjalanan? Justru yang akan selalu diingat adalah seseorang yang selalu ha...

Usia 25 Itu....

Umur hampir menginjak usia 25 tahun memang bukan lagi usia kanak-kanak. Bukan lagi usia remaja. Tapi usia dewasa. Umur dimana akan banyak sekali perubahan. Umur dimana akan banyak sekali memikul tanggung jawab. Apalagi kalo bukan tanggung jawab masa depan. KTP yang setiap 5 tahun diperpanjang, SIM yang setiap 5 tahun diperpanjang, STNK juga harus diperpanjang, belom pajak kendaraan yang setiap tahun harus dibayar. Memang belum sepenuhnya dari gaji sendiri, tapi tanggungjawab untuk tidak lupa memperpanjang ini yang cukup berat. Kadang saking keasikan masih terbawa jaman ABG, gak inget kalo udah punya SIM. Tanggung jawab mengurus. Kalo lupa? Yaaaaa salam deh bolak-balik kantor polisi sampe itu bapak polisi HAPAL! Ngehe yaaa. Banget. Enak yaaa jadi bocah, jadi remaja- teeneger . Gak perlu repot inget kapan harus perpanjang ini itu dkk. Hahaaaaaa. Ini baru KTP, SIM dan STNK, belom besok kalo punya rumah, punya gaji sendiri, punya tagihan telepon, listrik, air, tv, dll. Kebayang gak ...

kecewa

ternyata lama pertemanan tak menjamin akan awetnya hubungan. bahkan karena rasa sakit dan kecewa terkadang bisa membuat sikap seseorang menjadi berubah. yaaa rasa kecewa yang tetap belum ada obatnya. mungkin bisa memaafkan, tapi melupakan? belum tentu. kita tidak tau dalamnya rasa sakit yang dirasakan. sedihnya rasa sepi yang berlalu. hilangnya rasa percaya. percayalah hal ini tak terlihat mudah. bahwa kecewa itu masih ada. meski udah berlalu sekian bulan, tapi tetap saja tak ada yang bisa merubah itu semua. tidak juga pelukan, tidak juga kehadiran. kecewa tetap kecewa yang akan terus menggaga hingga nanti luka itu kering sendiri entah kapan. bahwa pertemuan terakhir kita, aku rasa "beda". canda tawa kita tak lagi sama. sinar tawanya pun beda. entah tapi kadang aku ga nyambung candaan kalian. oh ternyata ini fase perubahan. yaaa tahap dimana kita mulai bisa merelakan dan melepaskan teman lama dan menyabut teman baru. bagiku, jujur sudah terlambat untuk memperbaiki. ke...