Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Jodoh

Suatu ketika, ada seorang teman yang bercerita jika dia sangat mengidolakan Mario Teguh. Bahkan kata-katanya selalu menginspirasi. Well, buat saya, saya sama sekali gak mempan sama motivasinya beliau (sorry to say). Teman saya cerita kalo dia sangat tertarik dengan salah satu quote “bahwa cinta harus dicari, diperjuangkan?” oke. Gini. Sekarang kalo saya balik nanya, “kemana cinta harus saya cari?” ke Depok? Ke Bekasi? Ke Jakarta??? KEMANA????? KEMANAAAAAA? (napa malah jadi nyanyi lagu Ayu Ting Ting yaa?).
Buat saya pribadi yang udah baca beberapa buku tentang jodoh, bahwa sebenarnya jodoh itu tak perlu dicari. Oh apa lantas kita hanya diam saja dirumah gak ngapa-ngapain? Ongkang-ongkang kaki berharap si Cinta datang? GAK GITU JUGA. Gak usah nyari? Gini, menurut saya, mencari cinta yang hakiki itu ya ke Tuhan. Udah. Titik. Simpel. Mudah, murah banget. Semakin kita mencari Cinta-Nya, InsyaAllah, jodoh akan datang atas petunjuknya. Ngerti kan sampai sini. Kalo kita sendiri belum nemu yaa…

Cermat ke Hypermart

Setiap orang di setiap kehidupan ini, pasti pernah ngalami hari buruk. Hari apesnya kalo buat orang Jawa. Ada yang mungkin ban bocor di jalan, ada yang kehabisan bensin, motor tiba-tiba mogok, ketilang polisi gara-gara gak bawa SIM/STNK dan sebagainya. Nah hari ini bisa dibilang hari apes. Hari kecewa atau gelo. Mood yang tadinya hepy mendadak jadi drop! Seakan bahagia itu dimakan dementor. Siang tadi sepulang dari kondangan dari UIN, mampirlah ke salah satu supermarket sebut aja hyper. Agak lama juga disitu, liat macem-macem barang. Dan tertarik sama gulungan Shusi! Mendadak impulsif dan pengen beli. Yaaa udahlah yaaaa. Sampe kasir bayar sekian, dan agak heran kenapa bisa abis sekian banyak, padahal yang dibeli dikit. Gak ambil pusing dan rada males ngecek lagi, pindahlah ke outlet sebelah, ke lantai sekian, sekian. Sampe rumah rasa penasaran dan heran itu terjawab! Gulungan Shusi tadi dihitung 2 x harga satuan. Edyaaaaan. Harga satuan aja 34.900, kalian x 2 deh, udah berapa. Sediih …

Mengembalikan Televisi Publik

Seri Penyiaran Publik
Pada tahun 1962 sejarah pertelevisian di Indonesia dimulai ketika TVRI mengudara untuk pertama kalinya dengan siaran langsung HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-17 di Istana Negara Jakarta dan liputan Asian Games IV di Jakarta. TVRI awalnya adalah medium untuk mempromosikan program-program pemerintah, serta memperteguh konsensus nasional tentang budaya nasional, pentingnya pembangunan, tertib hukum, dan menjaga kemurnian identitas bangsa. Pada awal berdirinya secara resmi pada 24 Agustus 1962, TVRI dikenal sebagai televisi pemerintah. Sebab TVRI memang tidak diorientasikan untuk memenuhi kepentingan-kepentingan publik. Dari sekadar medium untuk mendokumentasikan sejarah,TVRI pada akhirnya hanya berperan sebagai alat propaganda pemerintah dan perangkat Ideologis rezim berkuasa. Hal  inilah yang menjadi kendala serius ketika muncul keinginan untuk mentransformasikan TVRI menjadi Lembaga Penyiaran Publik. Pembentukan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) dan Lembaga Penyi…

Bukan Perkara Mudah

Sebelum memutuskan menikah kiranya hal ini menjadi penting untuk dipikirkan. Cek this out.
1.Yakinkanlah bahwa memang dia yang akan menjadi teman hidupmu sampai kamu tua nanti. Jangan karena alasan ganteng, tinggi, pintar kamu memilih dia. Suatu saat dia yang kamu cintai tidak lagi secakep saat kamu menikah dulu. Karena usia, suatu saat dia sudah mulai lupa dan pikun/parkinson/alzaimer tidak lagi sepintar dulu.
2.Kamu pun harus siap menghabiskan sisa usia bersama dia. Sebelum tidur dan bangun tidur yang kamu liat hanya dia.
3.Seseorang yang membantu memotong kukumu, dan membantumu menyibak ubanmu yang mengganggu, dia yang mencebokimu kala kamu tak sanggup bangun dari tempat tidur, dia yang mengelus perutmu dan meredakan rasa keram yang datang setiap bulan. Dia yang menjadi imam dalam setiap doa yang kalian harap besama.
4.Meyakinkan diri bahwa kamu memang pantas menjadi ibu/ayah dari anak-anaknya kelak.
5.Jangan karena sudah bosan, kamu memilih meninggalkan dia.
6.Banyak hal dan masalah …

Masihkah TVRI dan RRI Eksis?

Pada tahun 1962 sejarah pertelevisian di Indonesia dimulai ketika TVRI mengudara untuk pertama kalinya dengan siaran langsung HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-17 di Istana Negara Jakarta dan liputan Asian Games IV di Jakarta. TVRI awalnya adalah medium untuk mempromosikan program-program pemerintah dan diperlakukan sebagai alat propaganda pemerintah. Fakta sejarah inilah yang menjadi kendala serius ketika muncul keinginan untuk mentransformasikan TVRI menjadi Lembaga Penyiaran Publik. Sebab sejak dari awal TVRI memang tidak diorientasikan sebagai media untuk memenuhi kepentingan-kepentingan publik. (Kitley, 2001 dalam Sudibyo, 2004 : 280). RRI yang lahir pada tahun 1945 menjadi sejarah sebagai pengawal kemerdekaan dan menyiarkan berita kemerdekaan ke seluruh pelosok Indonesia. Sejak saat itu RRI menjdi primadona masyarakat sebelum menjamurnya radio-radio swasta. Saat ini hampir sebagian besar masyarakat sudah jarang sekali menonton TVRI apalagi mendengarkan RRI. Lebih-lebih generas…

Defensif vs Open Minded

Beberapa hari yang lalu aku review salah satu novel. Jujur aja, baru kali ini ngereview novel. Sebelumnya pernah review sih tapi untuk tugas kuliah doang.
Jadi isenglah Aku review novel yang baru aja selesai dibaca. Jujur aja aku kurang sreg. (Liat posting sebelumnya). Aku tulis jujur, apa adanya yang emang aku rasain dan sesuai ma pikiranku saat itu. Abis selesai posting di blog, aku linklah ke twitter dan mention penulisnya biar baca. Tapi ternyata.... Dari tanggapan dia sama reviewku, dia kecewa (gak terima). Defensif dan tetep beranggapan bahwa apa yg dia tulis pasti disukai.
Tapi kok aku (kurang) suka ya? Apa itu salah? Apa aku harus pura-pura "wah novelmu keren banget, moodku campur aduk selesai baca, bikin yang tadinya nangis trus ketawa, bisa banget bikin dongeng ajaib gitu". Enggak kan?
Tapi kayaknya justru itu malah yang pengen dia denger dari pembaca. Bikin dia seneng dan bahagia novelnya diterima. Postingku yang kemarin udah dianggap lewat... Gak penting juga cu…

Some Where Only We Know

Tadi pagi baru aja menamatkan salah satu Novel yang diperoleh dari perjuangan Pre Order -udah semacam Pre Order tiket konser-. Novel ke dua, ralat : novel fiksi pertama @aMrazing.. Sejujurnya gue lebih suka novel non-fiksi TNSLOA. Hehehee.

Okeee fokus.... Fokus....
Sebenernya ekspektasi gue ke novel ini terlalu tinggi. Gue pengen bagian Hava ketemu Kenzo bisa lebih dramatis lagi. Minimal pada akhirnya Kenzo atau Hava meminta maaf. Kenzo karena dia udah sempat ga percaya. Hava karena dia udah membiarkan Kenzo nunggu terlalu lama. Mungkin ini terlalu sentimentil karena gue cewek. Hahahaaa

Gue pikir kata - kata "Kampret" gak banyak muncul. Ternyata gue salah. Jujur aja kata-kata malah menurut gue ganggu. Makian dan omelan Ririn juga kadang terlalu lebay. (Tapi mungkin emang sengaja dibuat lebay).
Pas bagian Arik cerita tentang dongeng, sengaja aku lewatin. Karena emang gak terlalu suka dongeng yang absurd apalagi dongeng ala putri-pangeran. Klise.
Hubungan Ririn ma Arik terlalu…

Untittle

Beberapa hari yang lalu entah semesta sedang berencana apa, gue ketemu lagi sama orang yang sebenernya males banget gue temui. Bahkan untuk denger suaranyapun gue ogah. Dan setelah lebih dari 4-5 tahun gak ketemu, kemarin gue harus merelakan jantung gue nyaris copot plus migren berkempanjangan sebagai akibat ulah dia –yang tak udah disebut nama- yang nyetir gak karuan kayak sopir truk ngejar setoran. Untuk pertama kalinya gue mual dan migren padahal cuma wisata dalam kota. Aseli itu migren ganggu banget. Ganggu liburan gue tepatnya. Dia pun gak minta maaf udah bikin kepala bentur kursi depan berkali-kali pun saat gue nyaris ketinggal kereta gagara dia salah ambil jalan. Dan gue nyaris berlinangan air mata tepat saat kereta sudah memasuki stasiun. Gue kecewa!
Entah kenapa, liburan kemarin jadi liburan ter-males dan ter”akward” yang pernah ada. Gue bahkan terlalu malas untuk sekedar menatap matanya. Bahkan untuk sekedar menyapa dan membuka obrolan. Udah terlalu lama dia gak pernah hadir…

Menikah?

Akhir-akhir ini, di halaman FB beberapa kawan sudah berkeluarga bahkan sudah memiliki anak. Lalu terbersit dalam hati, kapan aku sampai pada masa itu?
Bagi yang telah memiliki pacar, tentu pertanyaan seperti “kapan nyusul”, “kapan dapat undangan” sudah sering kali didengar. Padahal bisa saja sebenarnya merekapun belum siap menikah. Belom lagi bagi yang jomblo. Pertanyaan “kok sendiri”, “pasangannya mana”, udah semacam makanan empuk saat kumpul keluarga besar. Apalagi saat sodara-sodara sepupu masing-masing telah menikah dan punya pacar, kaum yang jomblo ini makin khusyuk berdoa memantaskan diri.
Yang orang lain gak tau adalah, banyak bekal yang harus dipelajari sebelum nanti akhirnya berkeluarga. Karena menikah bukan cuma ijab qobul lalu selesai. Kesiapan mental sangat dibutuhkan. Memperbanyak pengalaman. Mana yang harus dilakukan mana yang tidak.  Tapi yaa namanya juga orang punya mulut, mereka kadang suka asal ngomong.
Bagi kawan yang diumur seperti saya ini sudah berkeluarga yaa ang…

Di mana...

Gak lama lagi pertanyaan ini akan muncul. Setelah berjibaku selama kurang lebih 4,5 tahun dengan kerasnya jadi mahasiwa, yang berakhir dengan pertanyaan kapan. Kali ini akan berganti dengan di mana?
Di mana? Saya pun gak tau, dan saya pun sampai tulisan ini dibuat belum punya jawaban. Kenapa? Karena saya tidak kemana-mana. Jika yang lain, setelah menyandang sarjana lalu pergi ke hutan rimba “Jakarta”. Saya masih di sini.
Sejujurnya setelah prosesi itu. saya gak tau masa depan saya mau dibawa kemana. Mau ngapain. Hingga disatu titik saya berpikir. Apa sih guna saya di dunia ini? apa sih tugas saya? Dan ribuan pertanyaan lain yang tak terjawab.
“gak nyari pekerjaan?” entah udah berapa kali jawaban ini muncul jika bertemu dengan teman, atau sesama alumni. Saya jawab “enggak”. Kenapa? Karena saya mungkin gak siap. Pekerjaan apa sih yang saya mau? Perkerjaan apa sih yang cocok sama saya yang begini? Dan lagi apa saya siap harus gagal lagi, lagi dan lagi dalam mencari pekerjaan yang tertimb…

Jatuh Cinta Diam-diam

Jatuh cinta? Kapan terakhir kali aku jatuh cinta? Pada sosoknya? Pada dia yang kusebut dalam doa? Atau mungkin kadang aku terlupa menyebut nama? Begitu lama kau simpan rasa itu Rasa yang hanya kau saja yang tau Masih tersimpan disana munggu rasa itu terpanggil oleh yang punya nama Apakah ia masih ada jika yang terpanggil nama yang lain? Ataukan ia akan menjadi rahasia sampai jiwa ini kembali?

Mereka yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa menuliskan namamu dalam setiap lembar buku catatan. Menuliskan cerita berlembar-lebar dalam halaman buku diary Merasakan getaran saat pertama kali sms mu mendapat balasan Tersenyum girang saat mata kalian tak senggaja bertatapan Mungkinkah kamu juga memiliki rasa yang sama? Atau kamu juga ingin diam-diam sama sepertiku?

Jatuh cinta diam-diam Dalam keheningan, ku tatap punggung itu semakin menjauh tanpa bisa ku raih Punggung yang selalu aku rindukan kala sedih ini butuh sandaran Saat malam, ku bisikkan namamu dalam setiap rapal doaku Meski hanya harap yang seolah e…

Alhamdulillah Wisyudah

Alhamdulillah, akhirnya lulus, resmi di wisuda juga. :”). Apa yaaa, gak bisa digambarkan. Campur aduk. Beban ibu akhirnya berkurang satu heheee.

Beberapa bulan lalu, mungkin gak terbayang bagaimana bisa berdiri diantara ribuan orang di GSP. Gak terbayang kalo saya kuat menghadapai badai. Ternyata saya sanggup bertahan. Meski jujur kata menyerah sering kali saya keluhkan. Kata menyerah selalu hadir kala raga ini, batin ini, rasanya tak sanggup bertahan lebih lama. Perjalanan yang panjang itu akhirnya terbayar lunas hanya dalam sehari. Perjalanan penuh tangis, penuh amarah, penuh drama pada akhirnya terbayarkan oleh kesabaran, kuatnya bertahan, pelukan orang tersayang, dukungan handai taulan. Perjalanan yang panjang dan melelahkan pada akhirnya sampai juga pada tujuan yang sesungguhnya, “Finish Line”. Tapi apa guna hanya hadir saat Finish Line namun tak menemani kala sedang berjuang. Tak menemani selama di perjalanan? Justru yang akan selalu diingat adalah seseorang yang selalu hadir, s…

Usia 25 Itu....

Umur hampir menginjak usia 25 tahun memang bukan lagi usia kanak-kanak. Bukan lagi usia remaja. Tapi usia dewasa. Umur dimana akan banyak sekali perubahan. Umur dimana akan banyak sekali memikul tanggung jawab. Apalagi kalo bukan tanggung jawab masa depan. KTP yang setiap 5 tahun diperpanjang, SIM yang setiap 5 tahun diperpanjang, STNK juga harus diperpanjang, belom pajak kendaraan yang setiap tahun harus dibayar. Memang belum sepenuhnya dari gaji sendiri, tapi tanggungjawab untuk tidak lupa memperpanjang ini yang cukup berat. Kadang saking keasikan masih terbawa jaman ABG, gak inget kalo udah punya SIM. Tanggung jawab mengurus. Kalo lupa? Yaaaaa salam deh bolak-balik kantor polisi sampe itu bapak polisi HAPAL! Ngehe yaaa. Banget.

Enak yaaa jadi bocah, jadi remaja-teeneger. Gak perlu repot inget kapan harus perpanjang ini itu dkk. Hahaaaaaa. Ini baru KTP, SIM dan STNK, belom besok kalo punya rumah, punya gaji sendiri, punya tagihan telepon, listrik, air, tv, dll. Kebayang gak apa aja …

Message Box

Nama

Email *

Pesan *